SURAKARTA - Di antara etalase kaca Museum Radya Pustaka Surakarta, sebuah medali kecil nyaris tak mengundang perhatian. Ia kalah mencolok dibanding keris pusaka, naskah babad, atau arca batu yang menjadi ikon kebudayaan Jawa. Namun ukiran segitiga bercahaya, bintang-bintang kecil, serta tulisan berbahasa Jerman dengan penanggalan 12 Mei 1808 menjadikan benda ini lebih dari sekadar koleksi minor. Ia adalah artefak sunyi yang menyimpan jejak perjumpaan gagasan lintas benua.
Medali itu bukan mata uang dan bukan pula tanda kebesaran raja Jawa. Ia lebih tepat dipahami sebagai medali atau jeton simbolik yang lazim digunakan dalam tradisi persaudaraan intelektual Eropa awal abad ke-19, terutama yang berkaitan dengan Freemasonry. Bahasa simbol yang digunakan adalah segitiga, cahaya, dan bintang yang merujuk pada gagasan pengetahuan, etika, dan tatanan kosmis yang menjadi fondasi pemikiran Pencerahan.
Penanggalan 1808 memberi bobot historis yang kuat. Di Eropa, tahun ini berada di jantung zaman Napoleon Bonaparte, ketika gagasan tentang negara modern, hukum rasional, dan persaudaraan manusia menguat. Di Hindia Belanda, periode yang sama menandai transisi administrasi kolonial dan meningkatnya kehadiran pejabat, insinyur, dokter, serta intelektual Eropa. Loji-loji Freemason telah aktif di Batavia dan menjadi ruang diskusi elite kolonial di luar struktur pemerintahan formal.
Surakarta tidak berada di pinggiran arus itu. Sebagai pusat kekuasaan Jawa, kota ini menjadi ruang perjumpaan antara dunia istana dan administrasi kolonial. Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran berinteraksi intens dengan pejabat Eropa, bukan hanya dalam urusan politik, tetapi juga pendidikan, teknologi, dan pengetahuan. Dari jaringan inilah, benda seperti medali tersebut masuk ke Jawa dan kemungkinan besar sebagai milik pribadi atau penanda persaudaraan, bukan sebagai simbol kekuasaan.
Penting untuk menempatkan artefak ini secara proporsional. Tidak ada bukti historis yang menunjukkan raja-raja Jawa menjadi anggota Freemasonry. Medali ini juga bukan pusaka keraton dan tidak pernah menjadi bagian dari ritus Jawa. Namun sejarah tidak selalu hadir melalui kepemilikan resmi atau peristiwa besar. Ia sering bersembunyi dalam benda-benda kecil yang mencatat dialog diam-diam antar gagasan.
Dalam konteks kosmologi Jawa, simbol-simbol pada medali ini menemukan gema makna yang menarik. Tradisi Jawa mengenal konsep cahaya (cahya), bintang (lintang), dan harmoni jagad besar serta jagad kecil. Raja diposisikan sebagai poros kosmos, penerima wahyu, dan penjaga keseimbangan dunia. Bahasa simbol Freemasonry adalah tentang cahaya pengetahuan dan tatanan semesta dan tidak serta merta bertentangan dengan pandangan ini. Keduanya berasal dari tradisi berbeda, tetapi sama-sama memandang dunia sebagai sistem yang harus dijaga melalui etika dan kesadaran.
Keberadaan medali Eropa ini di Museum Radya Pustaka memperluas cara pandang terhadap sejarah Surakarta. Museum tertua di Indonesia itu tidak hanya menyimpan memori Jawa, tetapi juga jejak jejaring global yang pernah bersinggungan dengan kota ini. Artefak tersebut menegaskan bahwa Surakarta bukan ruang budaya yang tertutup, melainkan simpul pertemuan ide bertempat di Jawa dan Eropa hidup berdampingan, kadang berjarak, kadang beririsan.
Kini, di balik kaca etalase, medali itu tak lagi berbicara sebagai simbol persaudaraan tertutup. Ia hadir sebagai penanda sejarah sunyi bahwa kolonialisme tidak hanya berlangsung melalui senjata dan perjanjian, tetapi juga melalui pertukaran gagasan yang kerap luput dari sorotan. Seperti bintang kecil di langit malam, cahayanya tidak menyilaukan, tetapi cukup untuk menuntun pembacaan yang lebih jernih atas masa lalu Surakarta. Handoko Suman