Surakarta - Di balik hiruk-pikuk ingatan kolektif tentang Taman Sriwedari sebagai pusat hiburan dan kesenian rakyat Surakarta, terdapat sebuah kawasan yang lama luput dari sorotan: eks Rumah Sakit Jiwa Mangunjayan. Bangunan ini berdiri tidak sebagai monumen kemegahan, melainkan sebagai ruang sunyi, bangunan arsitektur, medis, dan kebijakan kolonial bertemu dalam upaya mengelola sisi paling rapuh dari kehidupan manusia atau jiwa.
Rumah Sakit Jiwa Mangunjayan mulai dibangun pada dekade awal abad ke-20, sekitar tahun 1910–1915, dan diresmikan pada 17 Juli 1919. Fasilitas ini hadir untuk melayani pasien gangguan kejiwaan di wilayah Vorstenlanden, termasuk Surakarta dan sekitarnya. Meski tidak ditemukan catatan yang secara eksplisit menyebutkan nama arsiteknya, besar kemungkinan perancangannya berada di bawah tanggung jawab arsitek pemerintah kolonial dari Dienst der Burgerlijke Openbare Werken (BOW), lembaga yang menangani pembangunan fasilitas publik pada masa Hindia Belanda.
Secara tipologi, Mangunjayan merepresentasikan arsitektur rumah sakit jiwa kolonial dengan sistem paviliun. Bangunan - bangunan dirancang terpisah namun saling terhubung melalui koridor panjang, membentuk komposisi yang mengelilingi halaman dan taman terbuka. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman medis pada masanya, yang menempatkan udara segar, cahaya alami, dan ketertiban ruang sebagai bagian dari proses penyembuhan. Arsitektur tidak sekadar wadah, tetapi turut berperan sebagai instrumen terapi.
Adaptasi terhadap iklim tropis tampak jelas pada elemen bangunan atap tinggi dengan kemiringan curam, bukaan jendela lebar, ventilasi silang, serta teras yang berfungsi sebagai ruang peralihan antara luar dan dalam. Skala bangunan dibuat rendah dan memanjang, menghindari kesan masif, namun tetap menjaga kontrol melalui tata letak yang teratur. Pagar, jarak antar bangunan, dan orientasi ruang menegaskan bahwa kawasan ini adalah ruang yang terpisah, baik secara fisik maupun simbolik dari kehidupan kota di sekitarnya.
Konteks kawasan menjadi penting ketika Mangunjayan dibaca bersama Taman Sriwedari. Pada periode yang sama, Sriwedari berkembang sebagai ruang publik untuk hiburan, pertunjukan seni, dan perayaan budaya Jawa modern. Wayang orang, gamelan, dan keramaian penonton menjadi denyut kehidupan di satu sisi, sementara Mangunjayan menjalankan fungsi sebaliknya: perawatan, pengawasan, dan isolasi. Dua wajah kota ini berdampingan secara geografis, membentuk lanskap sosial yang memperlihatkan dualitas antara kegembiraan dan kesunyian, antara ekspresi budaya dan disiplin sosial.
Dalam kerangka tata kota kolonial, penempatan rumah sakit jiwa di dekat pusat aktivitas publik bukanlah kebetulan. Aksesibilitas dan keterhubungan dengan jaringan kota menjadi pertimbangan utama, meski tetap disertai upaya menjaga jarak visual dan psikologis. Mangunjayan tidak dirancang untuk tampil, melainkan untuk bekerja dalam diam sebagai sebuah karakter yang justru memperkuat identitas arsitekturnya. Pasca kemerdekaan, fungsi RS Jiwa Mangunjayan mengalami perubahan hingga akhirnya ditinggalkan. Bangunan-bangunan yang tersisa kini berada di persimpangan antara pelupaan dan kemungkinan pelestarian.
Jika diposisikan kembali sebagai bagian dari lanskap sejarah Sriwedari, Mangunjayan membuka pembacaan baru tentang Surakarta: bukan hanya kota seni dan budaya, tetapi juga kota yang menyimpan ingatan tentang praktik perawatan, kontrol, dan kemanusiaan. Eks Rumah Sakit Jiwa Mangunjayan adalah arsip ruang yang hidup. Ia mengajak kita membaca kota secara lebih utuh melihat apa yang pernah disembunyikan, dirawat, dan dilupakan melalui jejak arsitektur yang masih berdiri dalam diam.Handoko Suman