INFO
PARIWISATA

KAMPUNG KETANDAN - Pecinan Tertua Yogyakarta sebagai Ruang Hidup Arsitektur Kota.

Pecinan tertua Yogyakarta sebagai kampung kota multikultural dalam perspektif arsitektur dan pariwisata heritage.
KAMPUNG KETANDAN - Pecinan Tertua Yogyakarta sebagai Ruang Hidup Arsitektur Kota.
Gerbang Kampung Ketandan | Foto : Yufawaha

YOGYAKARTA - Kampung Ketandan merupakan salah satu kawasan permukiman tertua di Kota Yogyakarta yang memiliki peran penting dalam pembentukan struktur kota lama. Terletak di antara koridor Malioboro dan Pasar Beringharjo, Ketandan bukan hanya kampung kota biasa, melainkan sebuah ruang sejarah yang merekam perjumpaan panjang antara budaya Jawa, Tionghoa, dan kolonial. Dalam konteks arsitektur kota, Ketandan dapat dibaca sebagai representasi “kampung pecinan fungsional” yang tumbuh secara organik mengikuti dinamika ekonomi dan sosial kota Yogyakarta.

Secara morfologi, Ketandan berkembang sebagai kawasan hunian sekaligus niaga dengan pola ruang yang khas. Gang-gang sempit memanjang menjadi tulang punggung sirkulasi, menghubungkan deretan rumah toko yang padat dan saling berdempetan. Tipologi bangunan didominasi oleh rumah toko satu hingga dua lantai, dengan fungsi ganda sebagai aktivitas perdagangan di bagian depan, sementara ruang hunian berada di bagian belakang atau lantai atas. Pola ini mencerminkan karakter arsitektur urban Tionghoa perantauan, di mana ruang hidup dan ruang ekonomi menyatu dalam satu struktur bangunan.

Namun berbeda dengan Pecinan di kota besar seperti Semarang atau Jakarta, arsitektur Ketandan tidak menampilkan simbol-simbol Tionghoa yang monumental. Tidak ditemukan klenteng besar atau gerbang khas pecinan yang dominan. Sebaliknya, ekspresi arsitektural Ketandan justru sederhana dan adaptif. Fasad bangunan memperlihatkan perpaduan elemen Tionghoa, kolonial, dan lokal Jawa seperti pintu lipat kayu, ventilasi tinggi, balkon kecil, serta ornamen minimalis. Ini menunjukkan bahwa Ketandan berkembang bukan sebagai enclave etnis tertutup, melainkan sebagai kampung kota yang menyatu dengan struktur sosial Yogyakarta.

Dari perspektif kajian arsitektur kota, Ketandan menarik karena merepresentasikan proses akulturasi spasial. Komunitas Tionghoa, yang mayoritas berasal dari suku Hokkien, membangun ruang hidupnya dengan menyesuaikan konteks lokal. Mereka menggunakan bahasa Jawa dalam interaksi sehari-hari, mengikuti ritme kota keraton, serta membentuk pola hunian yang tidak eksklusif. Ketandan menjadi contoh bagaimana identitas etnik tidak selalu diwujudkan melalui simbol fisik yang besar, tetapi justru melalui praktik ruang, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial yang berkelanjutan.

Secara historis, Ketandan berfungsi sebagai simpul ekonomi kota lama. Kedekatannya dengan Pasar Beringharjo menjadikan kawasan ini pusat perdagangan emas, tekstil, obat tradisional, dan kebutuhan rumah tangga. Hingga kini, jejak fungsi tersebut masih terlihat dari keberadaan toko emas dan usaha keluarga lintas generasi. Aktivitas ekonomi ini membentuk karakter ruang Ketandan sebagai “kampung produktif”, di mana ruang publik dan privat saling tumpang tindih, menciptakan suasana hidup yang dinamis dan intim.

Dalam konteks pariwisata heritage, Ketandan memiliki potensi besar sebagai kawasan wisata budaya berbasis kampung kota. Keunikannya terletak bukan pada kemegahan bangunan, melainkan pada atmosfer ruang dan narasi multikultural. Ketandan menawarkan pengalaman berjalan kaki menyusuri gang sempit, melihat ruko tua yang masih aktif, mencicipi kuliner Tionghoa-Jawa, serta menyaksikan perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang berlangsung di ruang-ruang kampung. Inilah bentuk heritage yang hidup (living heritage), di mana sejarah tidak hanya dipajang, tetapi dijalani.

Sebagai destinasi wisata heritage, Ketandan seharusnya dikembangkan dengan pendekatan konservasi berbasis komunitas. Pelestarian tidak hanya berarti mempertahankan bangunan lama, tetapi juga menjaga pola ruang, aktivitas sosial, dan identitas budaya yang telah terbentuk selama ratusan tahun. Penataan pedestrian, penyediaan signage sejarah, serta kurasi kegiatan budaya dapat memperkuat posisi Ketandan sebagai ruang edukasi multikultural Yogyakarta.

Pada akhirnya, Kampung Ketandan adalah cermin wajah kota Yogyakarta yang sesungguhnya dimana kota yang dibangun dari pertemuan berbagai etnis, budaya, dan kepentingan ekonomi. Dalam kajian arsitektur kota, Ketandan bukan sekadar kawasan tua, tetapi sebuah laboratorium sosial dan spasial yang menunjukkan bagaimana keberagaman dapat membentuk ruang urban yang harmonis. Sebagai pecinan tertua di Yogyakarta, Ketandan layak diposisikan bukan hanya sebagai objek nostalgia, tetapi sebagai identitas penting dalam narasi kota wisata berbasis budaya dan sejarah. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
PARIWISATA

KAMPUNG KETANDAN - Pecinan Tertua Yogyakarta sebagai Ruang Hidup Arsitektur Kota.

Pecinan tertua Yogyakarta sebagai kampung kota multikultural dalam perspektif arsitektur dan pariwisata heritage.

Super Admin
09 Feb 2026 • 75x dibaca
KAMPUNG KETANDAN - Pecinan Tertua Yogyakarta sebagai Ruang Hidup Arsitektur Kota.
Gerbang Kampung Ketandan | Foto : Yufawaha

YOGYAKARTA - Kampung Ketandan merupakan salah satu kawasan permukiman tertua di Kota Yogyakarta yang memiliki peran penting dalam pembentukan struktur kota lama. Terletak di antara koridor Malioboro dan Pasar Beringharjo, Ketandan bukan hanya kampung kota biasa, melainkan sebuah ruang sejarah yang merekam perjumpaan panjang antara budaya Jawa, Tionghoa, dan kolonial. Dalam konteks arsitektur kota, Ketandan dapat dibaca sebagai representasi “kampung pecinan fungsional” yang tumbuh secara organik mengikuti dinamika ekonomi dan sosial kota Yogyakarta.

Secara morfologi, Ketandan berkembang sebagai kawasan hunian sekaligus niaga dengan pola ruang yang khas. Gang-gang sempit memanjang menjadi tulang punggung sirkulasi, menghubungkan deretan rumah toko yang padat dan saling berdempetan. Tipologi bangunan didominasi oleh rumah toko satu hingga dua lantai, dengan fungsi ganda sebagai aktivitas perdagangan di bagian depan, sementara ruang hunian berada di bagian belakang atau lantai atas. Pola ini mencerminkan karakter arsitektur urban Tionghoa perantauan, di mana ruang hidup dan ruang ekonomi menyatu dalam satu struktur bangunan.

Namun berbeda dengan Pecinan di kota besar seperti Semarang atau Jakarta, arsitektur Ketandan tidak menampilkan simbol-simbol Tionghoa yang monumental. Tidak ditemukan klenteng besar atau gerbang khas pecinan yang dominan. Sebaliknya, ekspresi arsitektural Ketandan justru sederhana dan adaptif. Fasad bangunan memperlihatkan perpaduan elemen Tionghoa, kolonial, dan lokal Jawa seperti pintu lipat kayu, ventilasi tinggi, balkon kecil, serta ornamen minimalis. Ini menunjukkan bahwa Ketandan berkembang bukan sebagai enclave etnis tertutup, melainkan sebagai kampung kota yang menyatu dengan struktur sosial Yogyakarta.

Dari perspektif kajian arsitektur kota, Ketandan menarik karena merepresentasikan proses akulturasi spasial. Komunitas Tionghoa, yang mayoritas berasal dari suku Hokkien, membangun ruang hidupnya dengan menyesuaikan konteks lokal. Mereka menggunakan bahasa Jawa dalam interaksi sehari-hari, mengikuti ritme kota keraton, serta membentuk pola hunian yang tidak eksklusif. Ketandan menjadi contoh bagaimana identitas etnik tidak selalu diwujudkan melalui simbol fisik yang besar, tetapi justru melalui praktik ruang, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial yang berkelanjutan.

Secara historis, Ketandan berfungsi sebagai simpul ekonomi kota lama. Kedekatannya dengan Pasar Beringharjo menjadikan kawasan ini pusat perdagangan emas, tekstil, obat tradisional, dan kebutuhan rumah tangga. Hingga kini, jejak fungsi tersebut masih terlihat dari keberadaan toko emas dan usaha keluarga lintas generasi. Aktivitas ekonomi ini membentuk karakter ruang Ketandan sebagai “kampung produktif”, di mana ruang publik dan privat saling tumpang tindih, menciptakan suasana hidup yang dinamis dan intim.

Dalam konteks pariwisata heritage, Ketandan memiliki potensi besar sebagai kawasan wisata budaya berbasis kampung kota. Keunikannya terletak bukan pada kemegahan bangunan, melainkan pada atmosfer ruang dan narasi multikultural. Ketandan menawarkan pengalaman berjalan kaki menyusuri gang sempit, melihat ruko tua yang masih aktif, mencicipi kuliner Tionghoa-Jawa, serta menyaksikan perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang berlangsung di ruang-ruang kampung. Inilah bentuk heritage yang hidup (living heritage), di mana sejarah tidak hanya dipajang, tetapi dijalani.

Sebagai destinasi wisata heritage, Ketandan seharusnya dikembangkan dengan pendekatan konservasi berbasis komunitas. Pelestarian tidak hanya berarti mempertahankan bangunan lama, tetapi juga menjaga pola ruang, aktivitas sosial, dan identitas budaya yang telah terbentuk selama ratusan tahun. Penataan pedestrian, penyediaan signage sejarah, serta kurasi kegiatan budaya dapat memperkuat posisi Ketandan sebagai ruang edukasi multikultural Yogyakarta.

Pada akhirnya, Kampung Ketandan adalah cermin wajah kota Yogyakarta yang sesungguhnya dimana kota yang dibangun dari pertemuan berbagai etnis, budaya, dan kepentingan ekonomi. Dalam kajian arsitektur kota, Ketandan bukan sekadar kawasan tua, tetapi sebuah laboratorium sosial dan spasial yang menunjukkan bagaimana keberagaman dapat membentuk ruang urban yang harmonis. Sebagai pecinan tertua di Yogyakarta, Ketandan layak diposisikan bukan hanya sebagai objek nostalgia, tetapi sebagai identitas penting dalam narasi kota wisata berbasis budaya dan sejarah. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri