INFO
Vritta Nara → Portal Media & Nuswantara Vritta → Majalah Digital : Budaya - Arsitektur dan Pariwisata Indonesia
Diskon 30% untuk pembelian tiket di candi.tiket
ARSITEKTUR

MENARA TELEPON BANDA ACEH - Menandai Perubahan Komunikasi Masa Kolonial Belanda

Bangunan komunikasi militer ini memperkenalkan teknologi telepon dalam perubahan tata kota dan strategi perang Aceh.
MENARA TELEPON BANDA ACEH -  Menandai Perubahan Komunikasi Masa Kolonial Belanda
BCB TELEKOMUNIKASI di Aceh | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

BANDA ACEH — Bangunan Menara Sentral Telepon Militer Belanda berdiri sebagai salah satu jejak penting perubahan teknologi komunikasi di Aceh pada awal abad ke-20. Bangunan yang didirikan pada 1903 itu dibangun pemerintah kolonial Belanda untuk mendukung komunikasi militer selama Perang Aceh. Kehadirannya memperlihatkan bahwa perkembangan arsitektur kota tidak hanya berlangsung melalui rumah, kantor atau fasilitas perdagangan, tetapi juga melalui bangunan yang menopang sistem komunikasi dan pengendalian wilayah.

Pembangunan bangunan tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Daud Syah, ketika kekuasaan Belanda terus memperkuat sistem militernya di Aceh. Sentral telepon ditempatkan di kawasan yang strategis di Banda Aceh, dahulu dikenal sebagai Koetaradja. Dari bangunan tersebut, jaringan komunikasi memungkinkan hubungan antara pusat pemerintahan militer dengan sejumlah wilayah yang menjadi bagian dari jaringan operasi Belanda. Teknologi baru itu mengubah cara informasi mengenai kondisi lapangan diterima dan diteruskan.

Kehadiran telepon mempunyai arti penting karena komunikasi jarak jauh sebelumnya sangat bergantung pada sistem telegraf dan pengiriman pesan melalui sarana lain. Jaringan telepon kemudian berkembang menghubungkan Koetaradja dengan sejumlah wilayah Aceh, termasuk Ulee Lheu, Sabang, Sigli, Bireuen, Takengon, Lhokseumawe, Lhoksukon, Idi, Peureulak dan Kuala Simpang. Jaringan tersebut bahkan terhubung dengan beberapa kota di Sumatera Utara. Infrastruktur komunikasi akhirnya menjadi bagian dari perubahan sistem ruang dan mobilitas informasi di wilayah Aceh.

Arsitektur gedung memperlihatkan pertemuan kebutuhan teknis dengan kondisi lingkungan tropis. Unsur kolonial terlihat melalui bentuk bangunan bergaya Eropa, sementara penyesuaian terhadap iklim tampak pada bukaan dan ventilasi berjaluji. Konstruksi beton menjadi bagian penting bangunan. Penempatan bukaan untuk sirkulasi udara menunjukkan bahwa teknologi bangunan tidak sepenuhnya dipisahkan dari kebutuhan lingkungan setempat. Arsitektur berfungsi sebagai wadah teknologi sekaligus merespons kondisi iklim Banda Aceh.

Fungsi bangunan juga memperlihatkan hubungan erat antara arsitektur dan kekuasaan. Sentral telepon bukan fasilitas komunikasi masyarakat dalam pengertian modern, melainkan infrastruktur yang mendukung kepentingan militer Belanda. Informasi dari berbagai wilayah dapat diterima lebih cepat sehingga koordinasi operasi menjadi lebih terpusat. Catatan sejarah bahkan menyebut bahwa laporan mengenai serangan pejuang Aceh yang diterima melalui jaringan telepon begitu intens sehingga gubernur militer Belanda beberapa kali memutus kabel telepon untuk menghindari tekanan dari kabar medan perang.

Setelah masa kolonial berakhir, fungsi bangunan mengalami perubahan mengikuti perjalanan politik dan pemerintahan di Aceh. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan tetap berkaitan dengan kepentingan komunikasi militer. Setelah Indonesia merdeka, bangunan kemudian digunakan untuk fungsi lain dan kini dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah di Banda Aceh. Pemerintah menetapkannya sebagai cagar budaya nasional melalui SK Nomor 014/M/1999 tanggal 12 Januari 1999.

Bangunan Menara Sentral Telepon Militer Belanda menunjukkan bahwa perubahan arsitektur pada awal abad ke-20 tidak hanya ditandai oleh perubahan bentuk fasad bangunan. Masuknya teknologi komunikasi menciptakan kebutuhan ruang baru sekaligus mengubah hubungan antara kota, informasi dan kekuasaan. Di Banda Aceh, sebuah bangunan yang awalnya dirancang untuk kepentingan militer kini menjadi penanda sejarah ketika teknologi telepon mulai mengubah cara sebuah wilayah terhubung. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
ARSITEKTUR

MENARA TELEPON BANDA ACEH - Menandai Perubahan Komunikasi Masa Kolonial Belanda

Bangunan komunikasi militer ini memperkenalkan teknologi telepon dalam perubahan tata kota dan strategi perang Aceh.

Super Admin
21 Sep 2026 • 129x dibaca
MENARA TELEPON BANDA ACEH -  Menandai Perubahan Komunikasi Masa Kolonial Belanda
BCB TELEKOMUNIKASI di Aceh | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

BANDA ACEH — Bangunan Menara Sentral Telepon Militer Belanda berdiri sebagai salah satu jejak penting perubahan teknologi komunikasi di Aceh pada awal abad ke-20. Bangunan yang didirikan pada 1903 itu dibangun pemerintah kolonial Belanda untuk mendukung komunikasi militer selama Perang Aceh. Kehadirannya memperlihatkan bahwa perkembangan arsitektur kota tidak hanya berlangsung melalui rumah, kantor atau fasilitas perdagangan, tetapi juga melalui bangunan yang menopang sistem komunikasi dan pengendalian wilayah.

Pembangunan bangunan tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Daud Syah, ketika kekuasaan Belanda terus memperkuat sistem militernya di Aceh. Sentral telepon ditempatkan di kawasan yang strategis di Banda Aceh, dahulu dikenal sebagai Koetaradja. Dari bangunan tersebut, jaringan komunikasi memungkinkan hubungan antara pusat pemerintahan militer dengan sejumlah wilayah yang menjadi bagian dari jaringan operasi Belanda. Teknologi baru itu mengubah cara informasi mengenai kondisi lapangan diterima dan diteruskan.

Kehadiran telepon mempunyai arti penting karena komunikasi jarak jauh sebelumnya sangat bergantung pada sistem telegraf dan pengiriman pesan melalui sarana lain. Jaringan telepon kemudian berkembang menghubungkan Koetaradja dengan sejumlah wilayah Aceh, termasuk Ulee Lheu, Sabang, Sigli, Bireuen, Takengon, Lhokseumawe, Lhoksukon, Idi, Peureulak dan Kuala Simpang. Jaringan tersebut bahkan terhubung dengan beberapa kota di Sumatera Utara. Infrastruktur komunikasi akhirnya menjadi bagian dari perubahan sistem ruang dan mobilitas informasi di wilayah Aceh.

Arsitektur gedung memperlihatkan pertemuan kebutuhan teknis dengan kondisi lingkungan tropis. Unsur kolonial terlihat melalui bentuk bangunan bergaya Eropa, sementara penyesuaian terhadap iklim tampak pada bukaan dan ventilasi berjaluji. Konstruksi beton menjadi bagian penting bangunan. Penempatan bukaan untuk sirkulasi udara menunjukkan bahwa teknologi bangunan tidak sepenuhnya dipisahkan dari kebutuhan lingkungan setempat. Arsitektur berfungsi sebagai wadah teknologi sekaligus merespons kondisi iklim Banda Aceh.

Fungsi bangunan juga memperlihatkan hubungan erat antara arsitektur dan kekuasaan. Sentral telepon bukan fasilitas komunikasi masyarakat dalam pengertian modern, melainkan infrastruktur yang mendukung kepentingan militer Belanda. Informasi dari berbagai wilayah dapat diterima lebih cepat sehingga koordinasi operasi menjadi lebih terpusat. Catatan sejarah bahkan menyebut bahwa laporan mengenai serangan pejuang Aceh yang diterima melalui jaringan telepon begitu intens sehingga gubernur militer Belanda beberapa kali memutus kabel telepon untuk menghindari tekanan dari kabar medan perang.

Setelah masa kolonial berakhir, fungsi bangunan mengalami perubahan mengikuti perjalanan politik dan pemerintahan di Aceh. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan tetap berkaitan dengan kepentingan komunikasi militer. Setelah Indonesia merdeka, bangunan kemudian digunakan untuk fungsi lain dan kini dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah di Banda Aceh. Pemerintah menetapkannya sebagai cagar budaya nasional melalui SK Nomor 014/M/1999 tanggal 12 Januari 1999.

Bangunan Menara Sentral Telepon Militer Belanda menunjukkan bahwa perubahan arsitektur pada awal abad ke-20 tidak hanya ditandai oleh perubahan bentuk fasad bangunan. Masuknya teknologi komunikasi menciptakan kebutuhan ruang baru sekaligus mengubah hubungan antara kota, informasi dan kekuasaan. Di Banda Aceh, sebuah bangunan yang awalnya dirancang untuk kepentingan militer kini menjadi penanda sejarah ketika teknologi telepon mulai mengubah cara sebuah wilayah terhubung. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri