SURAKARTA - Beliau lahir dengan nama Gusti Bhre Pandji Pramono, tumbuh dalam lingkungan bangsawan Mangkunegaran yang akrab dengan tata krama Jawa sekaligus dunia modern. Ketika kemudian naik takhta dan menyandang gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkoenagoro X, perubahan itu bukan hanya soal nama dan status. Beliau menandai pergeseran peran dimulai dari pewaris tradisi menjadi penentu arah.
Beberapa hari lalu pada tanggal 27 Januari 2025, di Pura Mangkunegaran, peringatan empat tahun kenaikan takhta digelar dalam suasana khidmat. Momentum itu tidak sekadar menegaskan legitimasi, tetapi memberi penanda bahwa kepemimpinan Mangkoenagoro X telah memasuki fase pemantapan. Bukan lagi masa pengenalan, melainkan masa pembuktian arah.
Sebagai raja muda di Surakarta, Mangkoenagoro X hadir dengan karakter yang relatif jarang ditemui dalam institusi tradisional yang tenang, terbuka, dan minim gestur simbolik berlebihan. Beliau tidak membangun jarak melalui kemegahan, melainkan melalui konsistensi sikap. Dalam dunia yang semakin cair, beliau tampak memahami bahwa wibawa tidak lagi semata lahir dari silsilah, tetapi dari kemampuan membaca zaman.
Gelar panjang yang beliau sandang mengikatnya pada sejarah Mangkunegaran sebagai sebuah kadipaten yang sejak abad ke-18 dikenal adaptif terhadap perubahan. Warisan itulah yang kini beliau rawat. Bagi Mangkoenagoro X, kemangkunegaraan bukan benda mati yang harus dipertahankan bentuknya, melainkan nilai hidup yang harus terus ditafsirkan ulang.
Visi itu tercermin dalam cara beliau memposisikan Pura Mangkunegaran. Istana tidak ditempatkan sebagai ruang eksklusif yang hanya hidup dalam kalender ritual. Beliau diarahkan menjadi pusat kebudayaan yang berinteraksi dengan publik, generasi muda, dan dinamika kota. Tradisi tetap dijaga pakemnya, tetapi diberi ruang dialog dengan kreativitas dan pengetahuan baru.
Dalam konteks Surakarta hari ini saat kota yang bergerak cepat dengan ekonomi kreatif, seni urban, dan masyarakat digital pada posisi itu menjadi strategis. Mangkunegaran dapat menjadi jangkar kebudayaan yang tidak menahan laju perubahan, tetapi memberi keseimbangan nilai. Mangkoenagoro X tampak sadar bahwa masa depan tradisi Jawa tidak terletak pada pengulangan masa lalu, melainkan pada kemampuannya memberi makna di masa kini.
Kepemimpinannya juga menunjukkan orientasi keberlanjutan. Bukan hanya keberlanjutan budaya, tetapi juga sosial. Mangkunegaran tidak berdiri terpisah dari warga di sekitarnya. Beliau diharapkan hadir sebagai institusi yang memberi dampak nyata untuk ruang belajar, ruang seni, dan ruang pertemuan lintas generasi. Di sinilah visi raja muda itu diuji hingga sejauh mana istana mampu relevan tanpa kehilangan ruhnya.
Mangkoenagoro X tidak tampil dengan retorika besar tentang perubahan. Beliau memilih bekerja melalui laku. Dalam tradisi Jawa, kepemimpinan semacam itu dikenal sebagai sepi ing pamrih, rame ing gawe. Diam dalam pamrih, sibuk dalam kerja. Sebuah pendekatan yang mungkin tidak segera terlihat hasilnya, tetapi kuat dalam jangka panjang.
Empat tahun masa jumenengan barangkali masih sekejap dalam ukuran sejarah Pura Mangkunegaran. Namun cukup untuk membaca arah. Mangkoenagoro X sedang menata fondasi dimana Mangkunegaran sebagai institusi budaya yang hidup, terbuka, dan berkelanjutan. Sebuah warisan yang tidak hanya dijaga, tetapi dipersiapkan untuk masa depan.
Di tengah Surakarta yang terus berubah, raja muda itu tidak menawarkan nostalgia semata. Beliau menawarkan kesinambungan. Dan di sanalah letak kekuatannya untuk menjadikan budaya bukan sekadar ingatan, melainkan penunjuk arah. Handoko Suman